Skip to content

Technology is nothing: if it fails

March 15, 2010

Teknologi terbaru bukanlah segala-galanya. Teknologi tercanggih yang dibuat oleh orang terhebat tidaklah ada artinya jika teknologi tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan penggunanya.

Teknologi yang populer dan terkenal dipergunakan banyak perusahaan besar di dunia, belum tentu tepat digunakan oleh perusahaan lain. Bisa jadi akibat penggunaan teknologi tersebut, perusahaan malah bangkrut di kemudian hari.

Teknologi tidak berguna jika gagal memenuhi kebutuhan penggunanya.

Berikut adalah contoh penerapan teknologi informasi yang gagal, yang diambil dari bagian introduction buku IT Risk[1]:

  • Comair, anak perusahaan dari Delta Airlines, merugi sekitar 20 juta USD (setara dengan keuntungan quarter sebelumnya), akibat kegagalan perangkat lunak yang dimilikinya.Sebelumnya perangkat lunak ini telah berjalan selama bertahun-tahun tanpa masalah. Masalah terjadi ketika perangkat lunak tidak mampu menangani perubahan data yang jumlahnya melebihi kapasitasnya. Akibatnya, terjadi pembatalan dan reschedule sekitar 91%  pesawat Delta Airlines selama tiga hari. Selain kerugian material, citra perusahaan menjadi rusak.
  • CardSystem Solutions, perusahaan yang menangani pemrosesan pembayaran dengan kartu kredit, diputus kontraknya oleh Visa & Mastercard. Server milik CardSystem telah dibobol oleh seseorang, sehingga data 40 juta kartu kredit terancam tersebar luas.
  • Fox Meyer (perusahaan farmasi) gagal mengimplementasikan SAP (sebuah ERP software), sehingga membuat perusahaan tersebut bangrut. Fox Meyer menggugat vendor SAP dan Accenture (yang melakukan implementasi), atas kegagalan perangkat lunak tersebut sebesar masing-masing 500 juta USD.
  • United Kingdom’s Inland Revenue, departemen yang mengurusi perpajakan di Inggris, mengalami kerugian sekitar 2 milyar GBP,  akibat kegagalan perangkat lunak kredit pajak. Pengujian perangkat lunak dipercepat akibat mengejar deadline. Pengujian yang dipercepat tersebut, membuat kesalahan fatal tersebut tidak mampu ditemukan, sehingga membuat banyak kredit pajak menjadi otomatis lunas.

Referensi

[1] George Westerman, Richard Hunter. IT Risk: Turning Business Threats into Competitive Advantage. Harvard Business School Press. 2007.

3 Comments
  1. setuju gan ama pendapat ente

  2. Whisnu permalink

    Mantapp Boss… udah keliatan nih hasil kuliahnya…wkwkwkwk

Trackbacks & Pingbacks

  1. Studi Kasus Comair – (Garuda Case part 1) « is think different..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: