The Secret Challenge Update & Updates

Sudah lama saya tidak menulis sesuatu di blog saya ini. Berikut beberapa update yang saya lakukan:

  1. Money raised di samping kiri telah saya hilangkan karena menimbulkan kontroversi :) Tapi yang penting program ini masih berjalan, tetapi hasilnya saya rahasiakan. Terima kasih kepada para penggemar tulisan saya ini yang rajin berkomentar hehehe.
  2. Blog saya ini bisa diakses lewat lintaka.com. Hosting masih di wordpress.com cuma domainnya sudah ditambah.

Terima kasih atas semuanya yang telah berkomentar di blog saya. Ada beberapa komentar yang masuk ke perangkap askimet, beberapa saya moderasi karena isinya tidak baik untuk dibaca orang lain.

Saya mohon maaf bila ada kesalahan yang timbul akibat tulisan saya. Semoga tulisan saya berguna bagi anda semua.

Merdeka!

The Secret Challenge: 1 Trilyun Rupiah

thesecretcover1.jpg
Pernah nonton film The Secret? Film ini konon film yang banyak dicari orang. Bajakannya juga ada. Bukunya juga banyak dijual di Gramedia, biasanya diletakin di bagian depan.

Nah yang jadi tantangan di sini adalah benarkah The Secret dengan Law of Attactionnya benar-benar rahasia yang hebat?

Mulai dari sekarang tanggal 4 Februari 2008 sampai 365 hari ke depan, saya akan membuktikannya.

Tantangannya adalah:

“Mempunyai tabungan sebesar Rp 1.000.000.000.000,- (1 Trilyun Rupiah) dalam waktu 1 (satu) tahun”

Ya 1 Trilyun rupiah, harus saya dapat dalam 365 hari.

Mustahil? Menurut rahasia ini, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Mari kita buktikan.

Saya akan mengupdate secara berkala hasil dari tantangan ini. Jadi silakan mengikutinya!

“Your wish, is my command!”, the secret

Sihh..Banga Jadi Wong Ndeso?

Banggakah anda sebagai bekas wong ndeso, yang sekarang sudah sukses hidup di kota besar?

“Tak critani you le, bapakmu ndisik ki mung wong ndeso. Mbahmu ki mung guru SD nyambi dadi petani. Pendak esuk aku angon bebek sik, sak durunge menyang sekolah. Mulih sekolah ngarit dinggo pakan wedhus. Saiki aku iso nyekolahke kowe tekan Australia. Piye aku ora hebat to le.”

(Aku ceritain ya nak, bapakmu ini dulunya orang desa. Kakekmu itu cuma guru SD yang sampingannya jadi petani. Tiap pagi aku memberi makan bebek sebelum pergi ke sekolah. Pulang sekolah cari rumput untuk kambing. Sekarang aku sudah bisa menyekolahkan kamu sampai Australia. Apa gak hebat.)

Banggakah anda sebagai wong ndeso? Sekarang yang sudah sukses jadi pejabat? Sudah sukses jadi direktur? Sudah sukses jadi artis terkenal? Yang dulunya cuma wong ndeso yang katro.

Kalau saya kok malu mengaku wong ndeso.

Saya malu berbahasa Jawa dengan tukang ojek, tukang bakso, tukang tambal ban di kota besar. Saya malu mengakui bahwa kita sama-sama dari desa.

Saya malu mengakui bahwa, saya tidak berbuat sesuatu untuk membangun desa saya. Saya malu untuk mengakui bahwa karena keberuntungan, saya bisa bersekolah dan mendapat pekerjaan yang layak.

Setelah seperti sekarang saya malu mengakui bahwa saya hanya memikirkan keluarga saya saja. Saya malu mengakui bahwa saya melupakan teman-teman di desa yang kurang beruntung.

Kowe saiki sing bangga dadi wong ndeso…muliho nang ndesamu coba. Tilikono desamu saiki dadi opo? Tilikono koncomu angon bebek mbiyen, konco ngarit, konco mancing welut, konco tawu, konco angon wedhus, konco angon kebo, saiki piye kahanane.

Wis pirang bocah ndeso tok wenehi beasiswa? Wis pirang omah rusak tok dandani? Wis pirang uwong loro tok biayai obate? Wis pirang petani tok bantu sawahe? Wis pirang meter dalan deso tok benerno?

Nek durung ono manfaate nggo desomu, luwih becik kowe ojo ngaku wong ndeso. Kowe ki saiki iso sukses, cuma beruntung, beruntung kowe pinter, beruntung bapakmu guru SD, beruntung kowe oleh beasiswa, beruntung kowe oleh bojo ayu, beruntung anak-anakmu pinter. Elingo karo asal-usulmu.

Tapi piye konco-koncomu dolanan benthik, dolanan gobak sodor, dolanan kasti, konco mancing, konco ndelok ketoprak, konco nonton wayang, konco dolanan dakon, sing ora beruntung? Sing kelas 4 SD we ora munggah-munggah. Koncomu sing ra duwe duit nggo neruske SMA. Koncomu sing ra lulus SMP. Eling ra kowe?

(Sekarang kalian yang bangga jadi wong ndeso..coba pulang ke desa masing-masing. Coba lihat desanya sekarang jadi apa? Datanglah ke teman menggiring bebek, teman mencari rumput, teman mencari belut, teman mencari ikan, teman menggiring kambing, teman menggiring kerbau, sekarang bagaimana keadaannya.

Sudah berapa anak yang anda beri beasiswa? Sudah berapa rumah rusak yang diperbaiki? Sudah berapa orang sakit yang anda biayai obatnya? Sudah berapa petani yang ada bantu sawahnya? Sudah berapa meter jalan desa yang anda perbaiki.

Kalau belum ada manfaat bagi desa anda, lebih baik anda jangan mengaku orang desa. Anda sekarang bisa sukses cuma beruntung, beruntung anda pandai, beruntung ayah anda guru SD, beruntung anda dapat beasiswa, beruntung istri adan cantik, beruntung anak anda pandai. Ingatlah akan asal usulmu.

Tapi bagaimana dengan teman main benthik, main gobak sodor, main kasti, mancing, nonton ketoprak, nonton wayang, teman main dakon, yang kurang beruntung? Yang kelas 4 SD saja tidak naik kelas terus. Teman yang tidak punya uang untuk melanjutkan ke SMA. Teman yang tidak lulus SMP. Masih ingatkah anda?) 

Sekolah atau kaya?

Pernah dengar jargon “Kalau ingin kaya ngapain sekolah?”, setujukah anda?

Saya amat sangat tidak setuju sekali.

Mungkin ada yang berpendapat, buat apa sih pelajaran kimia, buat apa sih pelajaran geografi? La wong saya ini jualan tahu di pasar gak butuh pelajaran gitu-gituan.

Saya tidak sekolah, saya punya kost-kostan 30 pintu, punya anak buah 10, punya mobil 3.

Anak-anak saya punya usaha jualan tahu di pasar lain, mereka sudah punya rumah dan mobil sendiri, mereka tidak pernah sekolah. Terus buat apa sih sekolah?

Menurut saya yang terpenting dari sekolah adalah membentuk pola pikir seseorang, dengan sekolah orang lebih mudah berpikir untuk maju. Pola pikir inilah yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita.

Kekayaan yang kita wariskan ada batasnya. Anak cucu kita belum tentu bisa mewariskan lagi kekayaan itu kepada anaknya. Namun pola pikir dapat dengan mudah kita wariskan pada anak-anak kita. Anak-anak kita kemungkinan besar dengan mudah mewariskannya kepada cucu-cucu kita.

Kakek buyut saya (ayahnya ibunya bapak saya), dulu adalah seorang pejabat desa, boleh dibilang orang kaya pada jaman itu (tahun 1930-1950an). Rumahnya joglo (pada jaman itu tidak semua orang mampu membangun rumah joglo), sawah banyak. Nenek saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Karena pada jaman itu perempuan jarang yang sekolah, maka hanya anak-anaknya yang laki-laki saja yang sekolah. Nenek saya tidak bahasa Indonesia, apalagi baca dan tulis, dan bersuamikan petani yang tidak bisa baca tulis juga.

Nenek saya yang satu lagi (ibunya ibu saya), adalah seorang guru. Suaminya juga seorang guru, yang boleh dibilang cukup kaya juga (tahun 1940-1970an). Rumahnya joglo juga, sawah dan kebunnya luas.

Kalau boleh membandingkan, nenek saya yang bersekolah pemikirannya lebih maju daripada nenek saya yang tidak sekolah.

Nenek saya yang sekolah, punya perencanaan bagi pendidikan anak-anaknya, anak-anak mereka disekolahkan setinggi-tingginya.

Nenek saya yang tidak sekolah, cenderung lebih pasrah terhadap nasib, pendidikan bukanlah priotas. Beruntung anak-anaknya bisa bersekolah semua.

Mengenai kekayaan, kakek buyut saya membagi kekayaannya kepada anak-anaknya. Nenek saya mendapat bagian, tetapi tidak besar dan nanti harus membagi warisan itu lagi kepada anak-anaknya.

Nenek saya yang bersekolah tidak mewariskan kekayaannya kepada anaknya perempuan, karena sudah kesepakatan keluarga.

Kekayaan yang diwariskan kakek buyut saya ada batasnya, tidak semua anaknya mendapat bagian sama. Nenek saya yang bersekolah, walaupun tidak memberi warisan, tetapi dia telah menyekolahkan ibu saya, inilah warisan terbesarnya.

Sepert Rano Karno bilang dalam sebuah iklan, “Hidup memang susah, tetapi anak-anak harus tetap sekolah”. Lebih baik menyekolahkan anak setinggi-tingginya daripada mewariskan kekayaan yang berlimpah tetapi anak-anak tidak disekolahkan.

Lebih baik lagi, bila menyekolahkan anak setinggi-tingginya dan mewariskan kekayaan yang melimpah.

Posted in Atau. 6 Comments »

Merdeka atau Mati, that’s the question!

Live free or Die, itu pertanyaanya!

Live free is free. Live free is about freedom.

Live free is not marketing. You don’t need to differentiate like in marketing if you want live. In marketing, you must differentiate or you will die.

Live free is about human right. If you don’t live free, then you have no right to be human.

Live free or die hard 4.0 is not just a movie title.

You must live free, and I must live free.

Freedom is for everybody.